Pendidikan di Indonesia
Sungguh miris hati saya melihat mutu pendidikan di Indonesia sangat buruk. Banyak berita yang saya lihat di televise mengenai anak – anak yang putus sekolah karna orang tua nya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan anak – anaknya. Sampai – sampai ada anak yang sekolah sambil kerja padahal umur mereka masih di bawah umur. Di umur mereka yang masih kecil mereka harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Program Dana BOS yang di berikan pemerintah ternyata masih belum cukup dan belum terlaksana dengan baik. Melihat anak – anak yang mengamen di lampu lalu lintas dengan penuh peluh, dan penuh harapan. Mereka buta akan ilmu karna mereka hanya berkutat untuk mencari uang untuk membantu orang tuanya karna mereka dari kalangan keluarga yang sangat kuarang mampu. Aku ingin pemerintah memperhatikan nasib anak – anak seperti mereka. Berikan mereka bantuan untuk dana sekolah mereka. Aku ingin Indonesia memiliki generasi yang berkualitas agar ke depannya Negara kita menjadi Negara yang maju.
Berbanding terbalik dengan anak yang berlatar belakang orang kaya. Mereka yang memiliki banyak uang akan melakukan apa pun dengan uang untuk mencari sekolah yang berkualitas tinggi yang sesuai dengan keinginan mereka. Tapi di saat pembelajaran hampir banyak yang membuang waktunya dengan hal yang tidak sesuai dengan pemblajaran, contohnya saat guru mengajar murid jarang ada yang memperhatikan, meereka malah asyik sms, mainin hp, lebih mementingkan penampilan mereka. Tentu ini hanya membuang – buang waktu dan uang orang tua mereka. Ini sungguh tidak adil untuk mereka yang berlatar kurang mampu. Tapi inilah hidup, apapun yang kita miliki yang kita terima adalah kuasa Tuhan, maka kita harus bersyukur.
Dari keadaan ini saya berpikir masih adakah sekolah bagi mereka yang miskin dan kurang di negeri ini?
Kisah mengharukan seperti ini memperjelas terminologi bahwa "orang miskin di negeri ini dilarang sekolah". Dari hari ke hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.
Kisah mengharukan seperti ini memperjelas terminologi bahwa "orang miskin di negeri ini dilarang sekolah". Dari hari ke hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.
Hingga saat ini, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa menikmati pendidikan bermutu di luar negeri. Karena mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk biaya pendidikannya di negeri orang, maka sepulangnya ke Tanah Air para ilmuwan itu berusaha untuk "mengembalikan modal" dengan berbagai cara. Korupsi kemudian menjadi sesuatu hal yang tidak luput dari perilaku mereka. Dan, kasus korupsi miliaran di negeri ini justru banyak dilakukan oleh para intelektual dan akademisi.
Selain pemerintah tidak memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan, pemerintah bahkan ikut merusak lembaga pendidikan dengan "menciptakan suasana tidak aman" di dalam negeri. Konflik yang berlarut-larut di banyak daerah dan "tambal sulamnya" kebijakan dalam dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan di negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.
Selain pemerintah tidak memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan, pemerintah bahkan ikut merusak lembaga pendidikan dengan "menciptakan suasana tidak aman" di dalam negeri. Konflik yang berlarut-larut di banyak daerah dan "tambal sulamnya" kebijakan dalam dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan di negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.
Ekses dari minimnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan maka kini bertebaranlah mental-mental "rapuh" yang muncul dalam perilaku korupsi pada pribadi-pribadi pejabat bangsa ini. Korupsi yang merambah ke semua sektor, termasuk sektor pendidikan sendiri, kini seolah menjadi "benang basah yang sulit ditegakkan". Bahkan, hingga hari ini penyelenggaraan pendidikan sering kali tanpa tahu malu dan basa basi terutama dalam mempraktikkan tindakan tercela dalam berbagai kegiatan sekolah dan proyek-proyek lainnya. Kini sudah saatnya kebohongan besar seperti ini harus dihentikan dan proses penyadaran bagi masyarakat harus diteriakkan. Bukan pendidikan yang menipu kita selama ini, melainkan pihak-pihak (oknum-oknum) yang memanfaatkan pendidikan untuk meraup laba yang telah menipu masyarakat bangsa ini. Pendidikan telah dipoles cantik dengan gedung-gedung megah dan janji-janji menggiurkan, yang membuat terbatasnya akses masyarakat ke dunia pendidikan.
Hanya dengan pendidikan murah, negeri ini akan diselamatkan. Dengan pendidikan murah, masyarakat akan bergembira menduduki bangku sekolah. Dengan perasaan senang, masyarakat bebas mengungkapkan berbagai kreativitas yang ada dalam dirinya.
Dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol perilaku korupsi yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam sektor pendidikan itu sendiri; karena dana yang sedikit akan mudah diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah diskriminasi terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa dihindarkan. Singkat kata, dengan penyelenggaraan pendidikan murah, orang miskin tidak lagi dilarang untuk sekolah.










0 komentar:
Posting Komentar